Yanz Family

Subtitle

Blog

Sejarah Kampung Makassar - Jaktim

Posted by herky04 on July 17, 2013 at 12:20 AM

Di Jakarta Timur terdapat wilayah bahkan kini nama sebuh kecamatan, namanya Kampung Makasar. Bisa ditebak jika wilayah ini mungkin dulunya dihuni orang-orang Makassar. Seperti nama wilayah lainnya di ibukota ini seperti Kampung Melayu, Kampung Ambon, Manggarai dan sebagainya. Menjadi pertanyaan besar, bagaimana orang Makassar bisa berafiliasi dengan orang Betawi sehingga bisa dapat ‘jatuh kampung’ di Batavia ini? Apakah dulunya ada ‘bedol desa’ antara Gowa dan Batavia sehingga nama Makassar bisa eksis di Jakarta?

 

Menyusuri jejak Makassar di Kampung Makassar Jakarta Timur sepertinya menggantang asap, sebab tak ada pemukiman khusus orang Makassar yang menjadi penanda mengapa wilayah ini bernama seperti itu. Tak ada pula ‘dialeg khusus’ yang menjadi ciri khas orang makassar seperti akhiran kata ‘ji’, ‘mi’, ‘tonji’ atau kelebihan atau kekurangan huruf ‘g’ dalam percakapan orang-orang Sulawesi Selatan yang biasanya para remaja mengistilahkannya dengan sebutan ‘okkot’.

 

Sebagai seorang bersuku ‘Bugis-Makassar’, istilah penamaan wilayah ‘Kampung Makassar’ di Jakarta ini sebuah jejak sejarah yang sunyi, sebab minimnya informasi tentang itu. Satu-satunya penanda yang dikira-kira bisa menjadi awal mula nama wilayah ini adalah keberadaan makam tua di Kramat Jati, wilayah yang dulunya pemekaran dari Kecamatan Kampung Makasar. Makam itu konon pesohor asal Makassar-Sulawesi Selatan, namanya Dato’ Tonggara. Siapa beliau? Amat sulit menjelaskannya.

 

Cerita orang-orang di Kampung Makassar dan Kramat Jati, Dato Tonggara dulunya seorang ulama asal Makassar yang banyak memberi peran di Batavia dan punya kedekatan khusus Pangeran Jayakarta, penguasa Batavia. Tetapi menjadi aneh jika mencari letaratur sejarah Bugis-Makassar, sebab tak satupun nama tokoh Dato Tonggara, yang ada semisal ‘Karaeng Segeri Tomatinrowe Ri Batavia’ atau jejak-jejak sejarah Arung Palakka di kawasan Sunda Kelapa.

 

Meruntut sebutan ‘Dato’ pada nama Dato’ Tonggara, lebih cenderung kemelayu-melayuan. Sebab bisa ditebak nama Dato dekat dengan sebutan ‘Datuk’, gelar terhormat di tanah Melayu. Tetapi soal Melayu di Sulawesi Selatan bukan barang baru, di Pangkep misalnya, terdapat afiliasi antara Melayu dengan suku Bugis-Makassar di sana, itulah mengapa ada sebutan nama ‘Ince’ pada beberapa nama di kampung halaman saya itu. Keluarga besar saya sendiri memanggil nama kakek dari garis Ibu dengan panggilan Dato’. Halnya dengan Ince yang banyak mengasumsikan sebagai samaran dari sebutan ‘Encik’, panggilan pada bangsawan-bangsawan Melayu.

 

Kembali ke soal nama Dato Tonggara, beberapa penduduk di Kramat Jati dan Kampung Makasar mengaku jika mereka adalah turunan Dato Tonggara asal Makassar itu, namun mereka telah ‘mati obor’, istilah penduduk di sana untuk mengungkapkan jika mereka tak mengetahui silsilah mereka, kehilangan sejarah dan lain-lain, sebab telah lama menjadi warga Jakarta, dan bahkan telah merasa menjadi suku Betawi asli, penduduk asli Jakarta.

 

Yang menjadi cerita sedih bagi ‘Dato Tonggara’ ini adalah, meski ia penyambung ‘garis keturunan’ orang-orang Makassar di Batavia, tetapi makamnya yang dikeramatkan penduduk itu jutru tak amat jarang dikunjungi oleh-oleh orang Bugis-Makassar itu sendiri. Dato Tonggara sepertinya hanya terbaring dalam kesediriannya, tak ada sejarah di Sulawesi Selatan yang pernah menuliskan kisahnya, tak ada perlakuan khusus orang-orang dari sukunya sendiri. Boleh jadi, jika saja Jakarta semakin padat, maka makam Dato Tonggara yang dikeramatkan itu bisa saja bernasib sama dengan makam-makam tua lainnya di Ibukota, digusur dan semakin kehilangan jejak.

 

Satu-satunya penghormatan pada Dato Tonggara di ibukota, yakni namanya telah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kramat Jati. Jalan Raya Dato Tonggara, kemudian dipecah-pecah lagi menjadi beberapa bagian, jalan Dato Tonggara I, II dan seterusnya. Jalan ini juga mnejadi perujuk menuju makam beliau. Semoga saja beliau tetap menjadi aulia di sisi-Nya. Amin.

Categories: Asal - Usul

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments